Farida Hanum

Orang ndeso yang punya angan-angan jadi penulis....

Selengkapnya
TONGKAT UNTUK AYAH (1)

TONGKAT UNTUK AYAH (1)

1. AYAHKU MEMANG HEBAT

"Ayo terus... !! terus... !!, pelan-pelan saja... jangan cepat-cepat, nak... !!", teriak ayah, sambil berlari-lari kecil mengikuti sepeda Najwa. Awas...! direm pelan-pelan sayang...". jerit ayah karena takut Najwa terjatuh. Najwa berusaha mengerem sepedanya. Sepedanya berhenti bersamaan dengan kakinya menyentuh tanah. “ Horee …kamu bisa ! kamu bisa !” ayah bertepuk tangan sambil memeluk Najwa. Najwa ikut bersorak kegirangan.

Sudah satu minggu Najwa belajar bersepeda. Setiap sore ayah selalu telaten mengajari Najwa belajar naik sepeda. Sore ini, selesai mengaji Najwa meletakkan tasnya dan berlari ke garasi langsung mengambil sepedanya. " Ayah...Ayah...ayo ajari Najwa yah...!" teriak Najwa. Sementara ayahnya yang lagi asyik membaca koran langsung berdiri dan berjalan menuju ke teras. Ayah memegang sepeda Najwa, tampak Najwa sudah berada diatas sepeda mungilnya. " Ayo...siap ya, pelan-pelan mata lihat lurus ke depan". demikian aba-aba ayah. Najwa hanya mengangguk saja. Ia serius mengayuh sepedanya sambil sesekali kaki turun ke tanah. mengulang lagi dan lagi. Najwa sangat semangat belajar bersepeda. 3 putaran dihalam rumah sudah membuat lelah kaki Najwa. " Sudah nak...istirahat dulu, itu ibu sudah menyiapkan makanan untuk kita." ajak ayah. Najwa menuntun sepedanya, mengikuti langkah ayahnya menuju ke teras. Disana ibu sudah duduk santai sambil minum teh hangat. " Ini minum tehnya dulu nak..." ibu memberikan secangkir teh hangat kepada Najwa. Disampingnya ayah sedang menikmati pisang goreng hangat bikinan ibu.

Alhamdulillah...sudah tidak haus lagi, ayo ayah... belajar lagi?!" rengek Najwa. Najwa menarik tangan ayahnya berharap ayahnya segera berdiri. "Ya...sabar dulu dong nak... ayah minum teh dulu" ayah berdiri sambil memegang cangkir teh dan meminumnya sebentar. Najwa mencoba belajar bersepeda tanpa dibantu ayahnya. " Ayo coba tanpa dipegangi ayah ya..., pelan-pelan saja" pinta ayah. Sepeda Najwa meluncur pelan, terus melaju menjauhi ayah dan berhenti di depan rumah bu Muniro tetangga sebelah, Ia membelokkan sepedanya kemudian mengayuhnya kembali ke arah ayahnya yang berdiri di depan pintu pagar rumahnya. " Horee...aku bisa ayah..." Najwa berteriak senang sambil turun dari sepedanya.

Di kejauhan terdengar suara azan maghrib. Najwa memasukkan sepeda mungilnya kemudian buru-buru mengikuti ayah ke kamar mandi. Ayah membimbing Najwa berwudlu, dengan semangat Najwa mengikuti arahan ayahnya. Selesai berwudlu Najwa bersama ayah pergi ke mushollah disebelah rumah. Selesai shalat maghrib, ayah masih menyempatkan mengajari Najwa membaca dan menulis. Sesibuk apapun ayah selalu menyempatkan diri untuk bermain dan menemani Najwa bermain piano, bersepeda, belajar membaca, bermain kuda-kudaan bahkan tidurpun Najwa selalu ditemani ayahnya.

2. AYAH JATUH SAKIT

Pagi ini tidak biasanya ayah berangkat buru-buru. Hingga lupa tidak membangunkan Najwa. Padahal setiap pagi ayah selalu membangunkan najwa dengan memberikan kecupan. " Ayah...Ayah...! teriak Najwa. Ibunya menghampiri Najwa. " Ayah sudah berangkat nak, dikantor akan kedatangan tamu penting" jelas ibu. "kok ayah tidak membangunkan aku?" tanya Najwa sambil mengucek-ucek matanya. Najwa sedih karena pagi ini ia belum ketemu ayahnya. " Ayo sekarang mandi, terus sarapan, ibu sudah bikinkan telur ceplok kesukaanmu". ibu membujuknya.

Najwa sudah berseragam rapi, Ibu membantu memakaikan kaos kaki hitam bergambar barbie kesukaannya. " Nah...sudah rapi. sekarang giliran ibu yang mengantar Najwa ke sekolah.

Setiap hari najwa berangkat sekolah selalu diantar ayah. Terkadang ayah menggunakan kendaraan beroda empat, tetapi yang lebih sering ayah mengantarnya dengan menggunakan roda dua. hari ini Najwa diantar ibunya sampai pintu gerbang. “ Nanti tunggu ibu di depan pintu gerbng aja, jangan kemana-mana !” Tegas ibu Najwa menghawatirkannya. “ ya bu.” Jawab Najwa. Najwa masuk ke dalam kelas. Sementara ibunya pulang kembaliSore begini biasanya ayah sudah mengajak Najwa bermain. Ia tak pernah sekalipun menyia-nyiakan kesempatan bermain bersama Najwa. Tapi kali ini, ayah belum pulang. Najwa duduk sendiri di teras depan rumah sambil membawa boneka panda pemberian ayahnya. Najwa menunggu ayahnya. Najwa bermain sendirian, sementara ibu asyik membaca majalah.

Selang beberapa saat, ayah Najwa datang. Tiin..tin..klakson ayah mengagetkan Najwa. “ Hore.. ayah datang.” Sambut Najwa sambil meloncat kegirangan.

“ Assalamualaikum….

“ Waalaikum salam..kok ayah terlambat? Tanya Najwa.

“ Maafkan ayah ya nak..” jawab ayah.

ayah terlihat lelah, tapi ayah tetap tersenyum. Ayah memeluk Najwa. “ Ayah mandi dulu ya…” jelas ayah, kemudian bergegas masuk ke dalam. Ibu mengikuti sambil membawakan tas ayah.

“ Badan ayah sakit semua bu..,” kata ayah. Ibu memegang badan ayah. “ Iya..badan ayah panas !, jangan mandi ayah, nanti tambah panas. Ayah masuk ke kamar kemudian berbaring sambil memejamkan mata. Kepala ayah semakin berat. “ Kita periksa ya yah..” Ajak ibu. Ayah menolak, ia hanya ingin istirahat sebentar.

Ibu membuatkan teh hangat untuk ayah. Kemudian memberikannya ke ayah. “ ini yah..minum dulu..” kata ibu sambil memberikan secangkir teh. Ayah meminumnya, kemudian kembali berbaring ke tempat tidur. Selang beberapa saat terdengar teriakan ayah memanggil ibu.

Bu.. Ibu..!” teriak ayah, sambil bangun dari tidur. “kaki ayah lemas, ayah tidak bisa berdiri !” Ibu berlari menuju ke kamar. Terlihat ayah sudah duduk di samping tempat tidur. Ibu terhentak kaget, tanpa pikir panjang, ibu langsung membopong ayah dan menuntunnya masuk ke dalam mobil. Ibu membawa ayah ke rumah sakit.

Di tengah perjalanan, sakit ayah semakin parah tangan dan kakinya lunglai, mulutnya kaku sehingga bicaranya tidak bisa dimengerti. Ibu semakin panik, ia mempercepat laju kendaraannya.

Sesampai di rumah sakit, ibu memanggil perawat dan membawa ayah ke ruang UGD. ayah diperiksa dan diinfus. Ayah harus dirawat dirumah sakit. Ayah terserang stroke, begitu kata dokter. Ibu sangat kaget, dengan meneteskan air mata ibu memandangi ayah yang lemas lunglai tak berdaya.

Najwa menangis di gendongan ibu, ia terus memanggil-manggil ayah. Tapi ayah tidak bisa membalas panggilan Najwa. Mulut ayah seperti terkunci. Ibu mengusap air mata ayah. “ yang sabar ya ayah..ini ujian ayah.” Kata ibu menguatkan hati ayah. Ibu sendiri sebenarnya juga sangat sedih melihat ayah mendadak jatuh sakit. Tapi ibu harus lebih tegar, demi ayah.

Sepuluh hari sudah ayah dirawat di rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa ayah sudah boleh pulang. Tapi ayah harus duduk dikursi roda, karena ayah tidak bisa berjalan lagi. Tangan dan kaki sebelah kanan ayah lunglai.

“ Bapak sudah boleh pulang, makan-nya dijaga ya pak..” jelas pak dokter. Ayah hanya mengangguk saja. Dokter kemudian memberikan ibu resep untuk diminum di rumah dan menjelaskan larangan-larangan makanan untuk ayah.

Ibu membereskan barang-barang ayah selama tinggal di rumah sakit. Dengan menggunakan kursi roda ibu mendorongnya meninggalkan kamar rumah sakit.

Perasaan ayah sedih bercampur bahagia. Bahagia, karena ia sudah boleh pulang dari rumah saklit. Sedihnya, karena ia harus selalu berada di kursi roda. Ayah pasrah terhadap sakit yang di deritanya. “ Allah pasti punya rencana lain.” Batin ayah.

3. KESEDIHAN AYAH

Tiba di rumah, ibu mendorong kursi roda ayah dan mengantarkan masuk ke kamar. Ibu mengangkat ayah dan menidurkannya. Ayah sangat sedih, ia tidak lagi seceriah dulu. Najwa juga ikut sedih, ia ingin ayahnya segera sembuh dan bisa bermain dengannya lagi. “ ayah cepat sembuh ya..,aku sayang ayah..” Najwa memeluk ayahnya. Ayah menahan air matanya supaya tidak keluar. Ia berusaha untuk tetap tersenyum. Tapi, kesedihan ayah tetap tidak bisa disembunyikan.

Setelah keluar dari rumah sakit, ayah masih tetap berbaring di tempat tidur. Ia harus selalu berada di kursi roda. Setiap sore hari ibu mengajak ayah duduk di ruang tamu sambil menonton tivi. Meskipun ayah tidak berminat menonton tovi, tapi ayah hanya ingin melihat Najwa bermain ataupun belajar. Sekarang Najwa harus melakukan apa saja sendiri. Najwa tidak ingin mengganggu ayahnya. “ Ayah..lihat tulisan Najwa, sekarang sudah bagus.” Kata Najwa menunjukkan buku tulisnya ke ayah. Ayah memuji Najwa, meskipun dengan bicara yang masih terbata-bata. “ bagus nak !, ayah bangga padamu.” Jawab ayah.

Najwa bahagia sekali mendapat pujian dari ayahnya. Ia melanjutkan belajar menulis. Tulisan Najwa semakin bagus. Selesai menulis, Najwa membaca buku cerita dengan keras. “ ayah…dengarkan aku membaca cerita si kancil ya…” pinta Najwa. Ayah hanya mengangguk dan memberikan jempol kirinya kepada Najwa. Najwa membaca dengan keras. Ayah hanya tersenyum melihat mimik wajah anaknya yang lucu dan menggemaskan. “ lucu sekali anakku.” Batin ayah. Ibu duduk di samping ayah memijat-mijat tangan ayah yang terkena stroke. Sesekali ibu membetulkan cara membaca Najwa.

“ sudah..capek !” Najwa menghentikkan membacanya dengan suara yang serak. Ibu menghampiri Najwa dan memberikan susu hangat.

“ Ibu.. kapan ayah sembuh ?” tanya Najwa sambil menghabiskan susu yang ia pegang.

“ Najwa harus berdoa, minta sama Allah supaya ayah segera sembuh.” Jawab ibu. Najwa meletakkan gelasnya, kemudian ia menengadahkan tangannya ke atas dan berdoa kepada Allah.

“ Ya allah !..berikan ayah kesembuhan, aku ingin bermain lagi sama ayah, cepat ya Allah sembuhkan ayahku. Amin..” Najwa menutup doanya sambil mengusapkan tangan ke wajahnya. Ayah terlihat meneteskan air mata. Ibu mendekatkan kursi roda ayah di sebelah kursi Najwa.

“ Terima kasih nak..Allah pasti mendengarkan do’a anak sholikhah seperti kamu.” Kata ayah sambil mengusap air matanya dengan tangan kiri. Ia tersenyum gembira melihat Najwa semakin pintar dan cerdas. Ayah sudah bisa tersenyum gembira. Tetapi di wajahnya masih tampak kesedihan karena sakit yang di deritanya. Ayah hanya pasrah kepada Allah. Ia terus berdoa agar diberi kekuatan dan sabar menerima cobaan ini. Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Ahh, tongkat itu pasti akan banyak bercerita

10 Feb
Balas

betul, bun

11 Feb

Kereeen, Pasti akan berlanjut

10 Feb
Balas

iya pak..

11 Feb

Ditunggu lanjutannya ... !!!

10 Feb
Balas

Ngge,terima kasih

11 Feb

Ditunggu lanjutannya ... !!!

10 Feb
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali