Farida Hanum

Orang ndeso yang punya angan-angan jadi penulis....

Selengkapnya
GORESAN PASCA REUNI (3)

GORESAN PASCA REUNI (3)

Pagi ini masih sama dengan pagi-pagi sebelumnya. gedung-gedung tinggi pencakar langit yang tetap berdiri tegak dan tak sedikitpun mengalami pergeseran. Pejalan kaki berlalu lalang sibuk dengan tujuan masing-masing. bunyi klakson kendaraan saling bersahutan semakin membuat bising jalanan. Setidaknya itulah realita yang dihadapi Ruroh setiap hari. Ia harus menyusuri jalan dengan menerobos di sela-sela kendaraan bermotor. Aktifitas wajib yang harus dijalani. Setiap pagi dia harus berebut jalan dengan pengendara yang lain. Tapi itu tidak menyurutkan semangat Ruroh, Ia justru menikmati aktifitas rutinnya. Seperti pagi ini, Ruroh berangkat sedikit terlambat, pasalnya hari ini suami kesayangannya harus bed rest. Rudi sang suami sementara harus istirahat, karena gula darah dari hasil lab cukup tinggi mencapai 550 mg/dl. Menurut dokter, Rudi benar-benar harus istirahat. ya...tadi malam sekitar pukul 22.00 wib rasa sakit Rudi tetap tidak mengalami perubahan, demamnya semakin tinggi pusingnya makin tidak bisa ditahan. Ruroh terpaksa mengajak Rudi ke rumah sakit umum daerah. Hasil lab menunjukkan bahwa disamping gula darah Rudi mencapai lebih dari batas normal,demamnya juga pengaruh dari lambungnya yang terkena infeksi. mungkin akibat keteledoran Rudi. Ia sering telat makan bahkan sering malas makan. jadi klop sudah! terpaksa Rudi harus istirahat. So, gara-gara suaminya sakit Ruroh terlambat ke kantor.

Ditengoknya jam di tangan menunjukkan pukul 07.00 Wib. "alhamdulillah...tidak telat-telat amat" ruroh tersenyum tipis. Ia meletakkan tasnya sebelum baris untuk apel pagi. " Tumben terlambat Rur?" bisik temannya saat berbaris apel pagi. " mas Rudi sakit Yul, sekarang dia gak ngantor, makanya aku nyiapin sarapannya dulu". jelas Ruroh. " lho...emang sakit apa dia?" Yuli makin penasaran. " biasa...gula darahnya tinggi lagi, ditambah lambungnya juga terkena infeksi.makanya harus bedrest". Ruroh menjawab dengan suara pelan. Selesai apel Ruroh dan Yuli berjalan menuju ruangan, diambilnya hp dari saku seragam dinasnya, di hidupkannya kembali nada deringnya yang semula di silent. Sambil berjalan dibacanya beberapa WA yang masuk dan... Whatsapp Fendi-lah yang menimbulkan rasa penasaran Ruroh . " selamat pagi...tadi malam bobok nyenyak?pasti ngimpiin aku ya?" Ruroh tersenyum, dilihatnya WA itu terkirim pukul 03.30 wib. Berarti bangun tidur langsung mengirim WA. Ruroh mematikan Whatsapp, Ia tidak tertarik untuk menjawabnya. Ruroh duduk santai di tempat duduknya. diambilnya botol air mineral di dalam tasnya. kemudian meminumnya. Sementara HP diletakkan di atas meja, Disebelahnya sudah menumpuk berkas yang harus diberesi. Ia mencoba untuk tidak terpengaruh dengan WA dari siapapun termasuk WA Fendi. hari ini ia pingin fokus pada pekerjaannya. Satu persatu berkas itu diselesaikan. Targetnya berkas-berkas yang menumpuk harus selesai hari ini juga.

Mendung tebal tampak menggumpal diatas langit, tepat berada di atas kepala Ruroh. diliriknya jam di dinding menunjukkan pukul 15.30. Ia segera merapikan mejanya, Ia berharap hari ini bisa sampai rumah sebelum hujan turun. Keluar dari kantor ia segera mengambil motor dan buru-buru menstaternya. Dengan kecepatan diatas normal ia menyusuri jalan yang sedikit padat. Semua pengendara berebut jalan berusaha agar tidak terguyur hujan. Baik motor maupun roda 4 saling berebut pingin cepat sampai di rumah. Ruroh berhenti di apotik. ingat bahwa ia harus menebus obat Rudi yang belum terbeli. Ia berikan copi resep kepada pegawai apotik. Menunggu obat diracik ia mengambil posisi duduk di dekat jendela agar bisa melihat turunnya hujan. Ia buka HP nya untuk menghilangkan kebosanann. Di sekitarnya masih banyak orang yang ngantri menunggu obat. Mendung makin tebal, titik-titik hujan mulai berjatuhan. Ruroh mulai cemas. Diliriknya jam di tangannya. Sudah hampir 20 menit ia menunggu obatnya. "mbak ada obat flu?" Tanya seseorang. reflek Ruroh mencari arah suara tersebut. Di depan kasir seorang lelaki yang tidak asing baginya. Fendi ! Ya itu suara Fendi !. di dekatinya lelaki itu. " Hai... peng!" Ruroh memanggil Fendi."Pepeng" begitulah panggilan mesra Ruroh pada Fendi saat-saat SMA. " eh ..hai..." jawab Fendi kaget. " Beli resep ya...emang siapa yang sakit?" tanya Fendi. " suamiku peng..." jawab Ruroh. Ruroh kembali duduk, Fendi mengikutinya duduk bersebelahan. Sementara diluar hujan makin deras. Ruroh bingung, satu sisi ia berharap segera pulang karena suaminya sakit, tapi sisi lain derasnya hujan tidak bisa diajak kompromi. Ruroh tidak mungkin menerobos air hujan, khawatir jatuh sakit. Apalagi sekarang ketemu dengan Fendi. "pucuk dicinta ulampun tiba" harapannya untuk bisa bertemu Fendi telah datang, jadi tidak mungkin ia menyia-nyiakan kesempatan itu. Sama-sama menunggu hujan reda, mereka mencari minuman hangat disebelah apotik. Masuk ke resto sebelah apotik begitu tenang, dengan sentuhan dekorasi yang apik ditambah alunan musik slow yang lembut dan didukung oleh suasana hujan yang memberikan kesan dingin membuat pengunjung betah berlama-lama di sana. Fendi dan Ruroh pun larut dalam suasana resto. mereka asyik ngobrol. Tampak begitu mesra...siapapun pasti iri melihat kemesraan mereka. mereka berdua terlena hingga melupakan tujuan utamanya. sore berubah menjadi petang, matahari yang seharusnya terbenam tak nampak sejak muncul mendung tebal. Akibat jenuh menunggu hujan reda banyak orang beranjak dari tempat duduknya menembus hujan yang tak jelas kapan reda. Fendi dan Ruroh tak menghiraukan kesibukan orang-orang menerobos hujan. mereka asyik bernostalgia. bercanda dan bergurau. Adzan maghrib berkumandang di tivi menyadarkan Ruroh dari asyiknya bercanda dengan Fendi. " Astaghfirullah...maghrib peng, aduh gimana nich..."Ruroh berdiri dari tempat duduknya tak tahu harus bagaimana. Akhirnya ia mengajak Fendi pulang. Fendi menawarkan diri untuk mengantar Ruroh. Tapi Ruroh menolak.Ia takut suaminya akan marah melihat seseorang mengantarnya. apalagi hari sudah malam dan kondisi hujan.

benar juga !!, Rudi tampak kesal melihat Ruroh pulang malam. Ia emosi dan melabrak Ruroh. Entah karena kesal Ruroh pulang telat atau mungkin efek gula darahnya yang meningkat. Yang jelas kekesalannya berawal dari telpon Rudi yang tidak dijawab Ruroh. Apalagi Doni putra pertamanya mengatakan kalau mamanya tadi ada di resto bersama temannya. Ruroh hanya diam saja, ia tak berani membela diri. khawatir kemarahan Rudi makin menjadi. sesekali ia berusaha menjawab pertanyaan Rudi,tapi itupun tidak menjadikan emosi Rudi reda. Rudi malah menuduh Ruroh macam-macam. Rudi memang mulai curiga pada Ruroh, sejak menghadiri acara reuni. beberapa kali Rudi memergoki Ruroh asyik ber-whatsapp- ria. Bahkan pernah Rudi memergoki Ruroh asyik menerima telpon pada malam hari, disaat ia dan anak-anaknya tidur. karena haus Rudi keluar kamar. dilihatnya Ruroh tertawa sendiri, dengan suara manjanya Ruroh bicara mesra dengan penelpon. saking seriusnya, Suaminya keluar kamarpun ia tidak tahu. Inilah yang menyebabkan emosi Rudi memuncak. Ruroh tertunduk sambil menitikkan air mata. Antara menyesal dan sedih. Menyesal karena ia tidak bisa mengemban amanat sebagai seorang istri, sedih karena tuduhan Rudi padanya terlalu berlebihan. Ruroh sendiri heran, " darimana ia tahu si Fendi??"pikir Ruroh. Ternyata pasca reuni, Rudi banyak mencari info dari teman-teman Ruroh tentang Fendi. Dengan emosi yang tinggi rudi bertanya dengan siapa kamu di resto? sama si Fendi itu kan? Bagai tersambar petir, Ruroh mendengar pertanyaan Rudi. berhenti sudah darah yang mengalir di tubuhnya. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia memang salah, Ia memang berdosa, Ia memang pemicu amarah suaminya. hanya menangis yang ia lakukan. Rudi yang seharusnya beristirahat dari sakitnya justru malah menjadikan ia makin sakit. Ruroh benar-benar menyesal. Bayangan ia bersama Fendi di resto membuatnya tersadar bahwa itu tidak seharusnya terjadi.

Malam makin larut, Ruroh tak bisa tidur. masih terngiang marahnya suami. diliriknya Dimaz sedang tidur pulas. ya...ia terpaksa tidur di kamar Dimaz karena Rudi belum bisa memaafkannya. Ruroh keluar dari kamar Dimaz, mengambil dua lembar kertas. mencoba menulis uneg-uneg hatinya. satu surat untuk Fendi dan satu surat untuk suami. Ruroh mengungkapkan penyesalannya kepada suami, dan menyampaikan maafnya melalui surat, karena ia tidak kuasa menyampaikan secara langsung. Uneg-uneg yang kedua ia tujukan untuk Fendi. Ia sampaikan permohonan maaf dan berharap Fendi tidak mengganggunya lagi. lewat goresan itu Ruroh berharap semuanya kembali seperti biasa. Suami yang selalu menyayangi dan tetap percaya padanya. Anak-anak yang tetap menganggapnya sebagai ibu yang hebat. Di lipatnya surat untuk suaminya, kemudian diletakkannya diatas tas kerjanya. Sementara surat Fendi akan dikirimkan lewat pos saat berangkat kerja besok. Ruroh menuju kamar mandi, mengambil air wudlu dan melaksanakn shalat malam serta memohon ampun atas segala dosa-dosanya. mulutnya tidak henti terus berzikir. bermacam-macam ia minta, termasuk pertaubatannya. Ada kenimakatan tersendiri, disaat ia dekat dengan sang Kholiq, hingga tak terasa Ruroh tertidur berselimut zikir dan doa.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Ceritanya baguus

29 Jan
Balas

Terima kasih bunda.salam literasi

29 Jan
Balas

Terima kasih pak..salam literasi

30 Jan
Balas

Ceritanya menarik, banyak hikmah. Litersi bikin sukses

29 Jan
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali