Farida Hanum

Orang ndeso yang punya angan-angan jadi penulis....

Selengkapnya
GORESAN PASCA REUNI (2)

GORESAN PASCA REUNI (2)

Sore ini Ruroh duduk santai di teras dengan ditemani secangkir teh hangat dan cemilan pisang goreng sambil memutar lagu tembang lawas dari HP nya. Ia sengaja duduk santai sambil menunggu suaminya pulang dari kantor. "I"ve been alone with you inside my mind...and i my dreams i've kissed your lips a thousand times..."lagu hello by Lionel Richie terdengar merdu, mengusik hati Ruroh. Tiba-tiba saja ia teringat lagu kenangan saat masih bersama Fendi. ya...lagu "hello" lagu kesayangan mereka berdua. Lagu lama yang diproklamirkan mereka menjadi lagu pengobat rindu ketika mereka tidak bertemu. lagi-lagi fikirannya melayang kembali saat bersama Fendi. Fendi yang begitu perhatian, Fendi yang begitu menyayanginya. Fendi yang tak pernah putus asa mengharap cinta Ruroh. Tiga hari pasca reuni Ruroh memang tak bisa melupakan Fendi. Ada rasa kangen yang tiba-tiba saja muncul. pertemuan yang terjadi setelah 30 tahun benar-benar menguras fikiran Ruroh. Sisa-sisa cintanya masih belum hilang seratus persen. Apalagi pertemuan itu menghidupkan kembali rasa cinta yang sudah hampir mati. " Ah...kenapa aku harus memikirkan dia" Ruroh tersadar dari lamunannya. Diambilnya teh hangat dan menyeruputnya pelan-pelan. Kemudian mematikan lagu "hello" by Lionel Richie yang masih terdengar merdu. Ruroh berharap dengan mematikan musik ia tak lagi mengingat nostalgia cintanya. Suaminya yang ditunggu belum juga pulang. Ia memutuskan masuk ke dalam rumah.Ruroh duduk di sofa, ia menyalakan televisi lagi-lagi tembang lawas terdengar merdu,lagu "tirai" dibawakan oleh peserta golden memories di salah satu stasiun tv. Ruroh yang baru saja mencoba melupakan kenangan bersama Fendi kembali terusik lagu tirai." lelah...lelah hati ini..." syair lagu tirai membuatnya hanyut kembali ke masa SMA. Ia kembali ingat Fendi. " Ya Allah...kenapa aku harus ingat dia??". Dibiarkannya lantunan tirai, dibiarkannya pula hatinya larut dalam kerinduan. Ia menikmati lagu tirai hingga selesai. " kok aku jadi melankolis begini ya..."pikir Ruroh. Ia mematikan tivi dan pergi ke kamar mandi, ambil air wudlu dan bersiap menunaikan shalat maghrib. Dilihatnya jam di dinding menunjukkan pukul 18.00 "hem...kenapa papa belum pulang juga ya...?. Ada kecemasan di hati Ruroh, untuk sementara ia bisa melupakan Fendi.

"Tin...tin...tin...!" klakson mobil jazz putih di depan pagar mengagetkan Ruroh. Ruroh berlari,bergegas membukakan pintu pagar. Jazz putih meluncur menuju ke garasi. Ada rasa lega di hatinya karena suami tidak kenapa-kenapa. Ruroh menghampiri suaminya, diambilnya tas dari tangan suaminya. " Tumben papa pulang malam". tanya Ruroh. Rudi begitu nama suami Ruroh hanya mengangguk tanpa memberikan penjelasan. "kepala papa pusing, tolong ambilkan obat, ma... " pinta suami Ruroh. Rudi memang di vonis dokter menderita diabetes sejak dua tahun yang lalu. ia sering merasakan pusing berat ketika harus menforsil fikirannya. "ada masalah pa di kantor??" Ruroh bertanya sambil memberikan metformin obat diabetes Rudi, disebelah kiri tangannya segelas teh hangat tanpa gula. " ya ma...pekerjaan papa hari ini banyak sekali, kepala papa terasa berat" Rudi menyerahkan gelas teh yang sudah kosong. " papa istirahat dulu ya ma..." Rudi masuk ke kamar, sementara Ruroh mengikutinya. Di rapikannya sprei dan bantal, Rudi merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata. Rurohmenutup pintu kamar. ia keluar kamar menuju kamar Dimaz. Di lihatnya Dimaz sedang mengerjakan PR.

"klentung...klentung" Ruroh mendengar suara HP berbunyi. Matanya tertuju pada HP diatas meja depan tivi. Ia balik arah sebelum sampai ke kamar Dimaz. Ia ambil HP nya, " ada whatsaap dari Fendi?!, buru-buru dibukanya whatsapp itu. " assalamualaikum Rur...kamu lagi ngapaian?". Diyep!! bagai ditonjok seseorang, Ruroh lemes dan gemetaran. Dibacanya berulang-ulang whatsapp dari Fendi, ada rasa bahagia tapi juga muncul rasa khawatir. Ruroh duduk di sofa, dibacanya sekali lagi whatsapp Fendi sebelum ia membalasnya. "Waalaikum salam...aku lagi nonton tivi. kamu lagi apa??". "sama Rur...aku lagi didepan tivi, tapi aku sendiri, istri dan anak-anaku lagi pergi ke rumah neneknya". Percakapan by whatsapp sedikit menghibur hati Ruroh. goresan demi goresan ia tuangkan di whatshapp. cukup lama ia berkomunikasi dengan Fendi. Ia begitu terlena, kadang senyum-senyum sendiri, terkadang menunjukkan ekspresi wajah serius. Ruroh larut dalam kesenangan sendiri. Ia lupa bahwa suaminya sedang sakit. Ia juga lupa bahwa ia adalah seorang istri dan ibu. Semuanya seakan tergeser dengan berseminya kembali bunga-bunga cintanya bersama Fendi.

Malam makin larut, jarum jam menunjukkan angka 9, Ruroh masih asyik dengan HP nya. Ia tersadar saat Dimaz memanggil namanya. " Ma...mama...dipanggil papa" teriak Dimaz. " Masya Allah... papa manggil kok aku gak kedengeran ya?!" Ruroh buru-buru bangkit dari sofa menuju ke kamar. Di lihatnya Rudi duduk di tepi ranjang. " Maaf pa...mama gak dengar papa manggil"tegas Ruroh. " badan papa gak enak semua ma...tolong pijitin dong..." pinta Rudi. Ruroh menyuruh Rudi berbaring lagi, ia ambil minyak urut di laci meja kamar dan mengoleskan lembut ke punggung Rudi sambil dipijit. " badan papa kok panas...papa demam lo". Ruroh mencoba menempelkan punggung tangannya ke kening Rudi. "Iya ma...kepala papa masih pusing". Rudi memijit sendiri kepalanya. " kita ke dokter ya pa..." pinta Ruroh. Rudi menolak ajakan Ruroh. "Istirahat aja dulu ma...besok kalau masih belum enak kita ke dokter". Rudi beristirahat kembali, sedikit hangat setelah dibalur dengan minyak. Ruroh mencuci tangannya yang terkena minyak. Dalam hatinya ada rasa menyesal, disaat kondisi suami sedang sakit ia malah asyik whatsapan sama Fendi. Selesai mencuci tangan ia kembali ke kamar. Dipandanginya wajah suaminya, tak terasa butiran air menetes di pipinya. Menyesal telah melupakan tanggung jawabnya menjadi seorang istri. Ia berbaring di sebelah suaminya, berusaha memejamkan matanya dan melupakan semua kenangan bersama Fendi.(bersambung)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali